Di era saat ini, manfaat dari hadirnya industri digital dalam kehidupan sehari-hari semakin terasa. Asosiasi Digital Indonesia (IDA) sebagai perkumpulan pelaku industri digital, menyelenggarakan program edukasi melalui web seminar dengan tema “Transformasi Digital Itu Sekarang Bukan Nanti” pada Kamis, 28 Desember 2021.

Dalam webinar tersebut, hadir Menteri Komunikasi dan Informasi peride 2014-2019 Rudiantara, pendiri DigiAsia Alexander Rusli, Direktur Utama PT Solusi Sinergi Digital (Surge) dan client partner iProspect Boudewijn Armando.

Rudiantara menyebut, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam menciptakan ekosistem digital. “Kalau dilihat dari population coverage, sudah 97% warga Indonesia yang dapat mengakses internet dari seluruh operator,” paparnya.

Tak hanya itu, Rudi menyebut pertumbuhan e-commerce dan developer aplikasi food delivery yang menjamur, membuat Indonesia menjadi negara dengan nilai bisnis food delivery mencapai 3,7 miliar dollar, lebih tinggi dari pencapaian Malaysia dan Vietnam.

Sayangnya, Indonesia kekurangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mampu mengembangkan aplikasi digital. “Kita butuh 600 ribu digital talents setiap tahunnya agar di tahun 2030 nanti bonus demografi benar-benar terjadi,” ungkapnya.

Tak hanya berdampak pada bonus demografi, pemanfaatan digital yang tepat juga berdampak baik bagi pelaku usaha dan pengiklan agar mudah menjangkau audiens.

“Digital itu harus difungsikan sebagai tools, pisau bisa dipakai tukang daging untuk memotog daging, tapi bagi kriminal bisa dipakai untuk melukai seseorang, peluangnya tinggi bagi para advertiser untuk memanfaatkan digital, dan tidak bisa ditandingi medium lainnya,” jelasnya.

(Rizqa Fajria/Foto: forbes.com)